Alasan Sepakbola Indonesia Tidak Maju

Konten []
Beberapa tahun belakangan kita melihat mirisnya akan krisis sepakbola yang terjadi di Indonesia. mulai dari jebloknya prestasi timnas Indonesia di kancah Internasional maupun klub sampai beberapa kisruh dan kasus seputar pesakbolaan di tanah air seperti adanya mafia bola, pengaturan skor, kisruh supporter dan lain-lain. mungkin dari berbagai permasalahan dan polemik itulah sepakbola kita menjadi tidak maju. lalu apa alasan sepakbola Indonesia tidak maju?

alasan pertama mungkin dari segi internal, apakah kalian tahu bahwa organisasi PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) badan yang menaungi urusan sepakbola di tanah air ini diurus oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu akan seluk beluk pesebakbolaan. bahkan lebih parahnya organisasi yang seharusnya netral dan independen malah ditunggangi oleh kepentingan politik. ini kacau karena politisasi hanya memforsir kepentingan sendiri. inilah sebab adanya mafia bola dan pengaturan skor yang merebak di sektor klub Indonesia.

Alasan Sepakbola Indonesia Tidak Maju
Bermain Sepakbola

alasan kedua, kurangnya perhatian di sektor pembinaan. sektor pembinaan bukan berarti hanya pembinaan dini. kalau soal pembinaan dini bakat-bakat muda sudah banyak dilakukan melalui sekolah sepakbola (SSB). namun hal yang disoroti adalah kelayakan sarana dan prasarana yang menunjang.

Cobalah sekali-kali kita belajar dari negara luar. contohnya saja Jerman. kalian tentu tahu bahwa Jerman merupakan salahsatu negara dengan sejarah sepakbola yang bagus terutama beberapa tahun terakhir dengan puncaknya menjadi juara piala dunia 2014, dan selalu bisa menciptakan bibit-bibit pemain muda yang unggul. negara Jerman mampu bangkit karena mereka belajar dari kegagalan gelaran Euro 2000, dimana mereka hanya mampu sampai fase grup saja. lihat saja Jerman menggelontorkan Dana 20 juta euro dianggarkan untuk menuntaskan program mendidik dan mencari pemain muda berkualitas serta membuat total 366 pusat latihan di bangun untuk para pemain muda.

Ya, Jerman sadar benar bahwa pembinaan usia dini adalah sebuah investasi jangka panjang. Karenanya, mereka tak pernah ragu untuk menggelontorkan dana besar untuk memupuk talenta muda. Hal ini bisa kita lihat dari besarnya biaya yang dikeluarkan tiap klub untuk membangun akademi sepakbolanya. Namun, tak sekadar menggelontorkan uang, Jerman melakukan hal yang lebih. Mereka sadar bahwa membangun sarana dan prasarana tanpa adanya pelatih tentu akan menjadi omong kosong.

Di sisi lain, untuk menjaga dan meningkatkan peforma para pemain muda, Jerman juga menempatkan dokter, fisioterapis, dan pelatih fisik kelas wahid di akademi yang mereka miliki. Selain itu, data para pemain –baik data medis, karakteristik personal, analisa peforma, atau hasil tes medis-- semua disimpan dalam suatu server tersendiri. Dan hanya staf pelatih yang dapat mengakses data terebut.

bayangkan bahkan mereka memperkirakan sampai sedetail itu. lalu mengapa Indonesia tidak bisa? alasannya kembali ke alasan pertama, PSSI perlu dirombak dan diisi oleh orang-orang yang benar-benar paham akan sepakbola, independen, professional, diluar kepentingan politik, dan mandiri tentunya. semoga kedepannya Indonesia bisa mencontoh hal-hal baik dari sepakbola di luar negeri untuk bisa memajukan sepakbola Indonesia, rakyat Indonesia sudah merindukan Garuda terbang tinggi setinggi langit. Salam Olahraga..