Perbedaan Budaya Bisnis di Berbagai Negara

Konten []

Perbedaan Komunikasi di Seluruh Negara

Orang Amerika semakin berinteraksi dengan manajer dari negara lain, sehingga ini penting untuk memahami budaya bisnis asing. Orang Amerika sering datang sebagai intrusif, manipulatif dan cerewet, kesan ini dapat mengurangi efektifvitas dalam komunikasi. Forbes menyediakan petunjuk budaya sebagai berikut:
  1. Orang Italia, Jerman dan Prancis umumnya tidak meringankan eksekutif dengan pujian sebelum mereka dikritik. Kebanyakan orang Amerika suka melakukannya dan praktik ini tampak manipulatif bagi orang Eropa.
  2. Israel terbiasa dengan rapat bertempo cepat dan memiliki sedikit kesabaran untuk informalitas dan perbincangan kecil Amerika Serikat. 
  3. Eksekutif Inggris sering kali mengeluh bahwa eksekutif Amerika mengobrol terlalu banyak. Informalitas, egalitarianisme dan spontanitas dari orang Amerika dalam urusan bisnis kerap menghentak banyak orang asing. 
  4. Orang Eropa merasa bahwa mereka diperlakukan seperti anak-anak ketika diminta untuk memakai penanda nama orang Amerika. 
  5. Para eksekutif di India terbiasa untuk menginterupsi satu sama lian. Oleh karena itu, ketika eksekutif Amerika mendengarkan tanpa menanyakan klarifikasi atau mengajukan pertanyaan bagi orang India mereka terlihat tidak memperhatikan. 
  6. Ketika bernegosiasi secara oral dengan eksekutif Malaysia atau Jepang adalah pantas untuk secara periodik memberikan waktu sejenak. Namun, tidak ada jeda yang diperlukan ketika bernegosiasi dengan orang Israel. 
  7. Menahan diri dari pertanyaan manajer asing seperti “Bagaimana akhir pekan Anda?” itu adalah intrusif bagi orang asing yang cenderung menganggap bisnis mereka dan kehidupan pribadi adalah terpisah sepenuhnya. 

Budaya Bisnis di Seluruh Negara

1. Budaya Bisnis Meksiko

Meksiko merupakan sebuah masyarakat otoriter dalam hal sekolah, gereja, bisnis dan keluarganya. Pengusaha disana mencari pekerja yang ramah, penuh rasa hormat, dan patuh, inovatif, kreatif dan mandiri. Pekerja meksiko cenderung berorientasi pada aktivitas ketimbang pemecahan masalah. Ketika seorang asing datang dan memasuki bisnis di Meksiko, ia akan terkesan oleh atmosfer yang hangat dan ramah. Di Meksiko sangat dijaga yang namanya keharmonisan dan hubungan yang baik, antara setiap lini yang ada. Toleransi terhadap permusuhan atau perselisihan jauh lebih rendah di Meksiko daripada di Amerika Serikat.

Pengusaha Meksiko bersifat paternalistis, memberikan lebih dari sekedar gaji dan upah bagi para karyawannya, namun sebagai balasannya mereka mengharapkan kesetiaan. Hal yang sangat jauh berbeda dari budaya yang ada di Indonesia mengenai masalah upahnya. Paket makanan mingguan, makan gratis, layanan bus gratis, dan lainnya merupakan bagian dari kompensasi. Kondisi kerja yang ideal bagi seorang pekerja Meksiko adalah model keluarga, di mana semua orang bekerja bersama-sama, mengerjakan bagian mereka, menurut peran yang sudah disepakati. Pekerjanya juga tidak mengharapkan lingkungan yang mendorong ekspresi diri dan inisiatif. Meksiko menekankan kolektivisme, kerja sama, rasa memiliki, formalitas. Kondisi yang berbeda dengan Amerika Serikat yang menekankan individualisme, prestasi, persaingan, rasa ingin tahu, spontanitas.

Rapat dan jamuan makan bagi para rekan bisnis sangat jarang dilakukan di rumah, melainkan kebanyakan di restoran demi menjaga kehormatan, menyelamatkan muka dan agar dianggap orang penting. Itulah sebabnya orang-orang Meksiko tidak menerima kritik dan perubahan dengan mudah, banyak yang merasa direndahkan ketika dirinya dianggap bersalah.

Ketika memberi salam biasanya untuk perempuan dengan menepuk lengan atau punggung dan untuk laki-laki dengan berjabat tangan. Jika berkunjung ke rumah membawakan hadiah seperti bunga atau permen, hindari tanaman dengan bunga kuning keemasan karena menjadi simbol kematian dan hindari bunga dengan warna merah karena memiliki konotasi yang negatif.

2. Budaya Bisnis Jepang

Orang Jepang menempatkan kepentingan yang tinggi kepada loyalitas kelompok dan konsensus, konsep yang disebut Wa. Hampir seluruh aktivitas korporat di Jepang mendorong Wa di antara manajer dan karyawan. Wa menginginkan bahwa seluruh kelompok setuju dan bekerja sama.

Kebanyakan manajer Jepang bersifat pendiam, tenang, berjarak, introspektif dan berorientasi lain sedangkan kebanyakan manajer Amerika suka bicara, tidak sensitif, impulsif, suka memerintah, dan berorientasi individu. Orang Amerika sering merasa manajer Jepang membuang waktu dan melakukan pembicaraan yang tidak jelas sedangkan Amerika sering menggunakan kritik tumpul, menanyakan pertanyaan keingintahuan yang menyinggung dan membuat keputusan cepat.

Di Jepang usia dan status seseorang adalah yang terpenting, apakah dalam unit keluarga, keluarga yang diperluas atau situasi sosial atau bisnis. Anak-anak sekolah belajar dari awal bahwa orang yang tertua dalam kelompok harus dihormati. Orang yang lebih tua dilayani terlebih dahulu dan minuman dituangkan untuk mereka. Orang asing boleh berjabat tangan tetapi bentuk tradisional dari menyapa adalah membungkuk. Semakin dalam membungkuk semakin besar rasa hormat yang Anda tunjukkan.

Dalam memberikan hadiah di Jepang, cokelat atau kue-kue kecil adalah pilihan yang tepat tetapi jangan memberikan bunga lili, kamelia, kelopak lotus, bunga putih karena mereka semua dihubungkan dengan pemakaman. Jangan memberikan tanaman dalam pot karena dianggap menimbulkan penyakit, meskipun pohon bonsai selalu dapat diterima.

Tidak seperti orang Amerika, orang Jepang lebih menyukai untuk melakukan bisnis berbasis hubungan pribadi dibandingkan tidak secara pribadi berbicara di telepon atau korespondensi tertulis. Untuk itu, bangun dan jaga hubungan dengan mengirimkan kartu ucapan salam, terima kasih, ulang tahun dan musiman.

3. Budaya Bisnis Brasil

Baik di Brasil maupun di Amerika, lelaki saling menyapa satu sama lain dengan berjabat tangan sambil menjaga kontak mata. Wanita menyapa satu sama lain dengan ciuman di Brasil, memulai dari pipi kiri ke pipi kanan. Memeluk dan menepuk punggung adalah sapaan yang biasa diantara orang Brasil yang berteman dekat. Jika seorang wanita berharap untuk menjabat tangan lelaki, sebaiknya mengulurkan tangan terlebih dahulu. Jika datang ke rumah orang Brasil bawakanlah bunga atau hadiah kecil. Anggrek kelihatan indah tetapi hindari ungu atau hitam karena ini adalah warna berkabung. Tiba setidaknya paling telat 30 menit, jika undangan tersebut untuk makan malam dan tiba terlambat paling lambat sampai satu jam untuk sebuah pesta atau pertemuan besar.

Hindarilah mempermalukan orang Brasil dengan mengkritik orang tersebut di depan umum, itu menyebabkan ia kehilangan muka dengan semua orang di rapat bisnis dan orang yang membuat kritik juga kehilangan muka karena merasa mereka tidak mematuhi aturan tidak tertulis orang Brasil. Adapun untuk kesepakatan bisnis, bersikeras menyusun kontrak hukum terperinci. Mereka lebih nyaman melakukan bisnis dengannya dan bernegosiasi dengan orang daripada perusahaan.

4. Budaya Bisnis Mesir

Di Mesir sapaan didasarkan pada kelas sosial dan agama. Jabat tangan, meskipun tidak erat dan berkepanjangan merupakan sapaan yang biasa antara orang Mesir dengan jenis kelamin yang sama. Jabat tangan selalu diberikan dengan wajah tersenyum dan kontak mata langsung. Sekali saja hubungan telah terbangun adalah biasa untuk menyapa dengan sebuah ciuman disatu pipi. Dalam menyapa antara laki-laki dan wanita, wanita akan mengulurkan tangan mereka terlebih dahulu. Sebaiknya, lelaki menundukkan kepalanya dalam menyapa.

Orang Mesir lebih suka unuk melakukan bisnis dengan mereka yang mereka kenal dan hormati, jadi gunakanlah waktu mengembangkan hubungan pribadi sebelum bisnis dilaksanakan. Siapa yang Anda kenal adalah lebih penting daripada apa yang Anda ketahui di Mesir, sehingga buatlah jaringan.

Orang Mesir harus mengenal dan menyukai Anda untuk melakukan bisnis. Hubungan pribadi adalah penting untuk bisnis jangka panjang. Orang dengan peringkat tinggi membuat keputusan, setelah mendapat konsensus kelompok. Keputusan dicapai setelah musyawarah besar. Di Mesir bisnis bergerak dengan kecepatan lambat dan masyarakatnya sangat birokratis.

5. Budaya Bisnis Tiongkok

Di Tiongkok, sapaan adalah formal dan orang yang paling tua selalu yang pertama disapa. Seperti di Amerika Serikat, jabat tangan adalah bentuk paling umum dari sapaan. Banyak orang Tiongkok yang akan melihat ke tanah ketika menyapa seseorang. Dalam hal hadiah, sekeranjang makanan menjadi hadiah sempurna tetapi jangan memberikan gunting, pisau atau alat memotong lainnya karena objek-objek ini menunjukkan hubungan yang buruk. Jangan memberikan jam, saputangan, bunga, atau sandal jerami karena mereka dikaitkan dengan pemakaman.

Orang Tiongkok sangat jarang melakukan bisnis dengan perusahaan atau orang yang mereka tidak kenal. Posisi Anda di sebuah bagan organisasi adalah sangat penting dalam relasi bisnis. Penyimpangan jenis kelamin umumnya bukan sebuah masalah. Acara makan atau sosial tidaklah tepat untuk diskusi bisnis.

Seperti Amerika Serikat dan Jerman, ketepatan waktu adalah penting di Tiongkok. Tiba terlambat ke rapat adalah hal yang buruk dan dapat memberikan pengaruh negatif pada hubungan Anda. Rapat disana membutuhkan kesabaran karenanya ponsel yang sering kali berbunyi dan pembicaraan cenderung menjadi penyebab keriuhan yang sudah umum.

6. Budaya Bisnis India

Menurut statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa tingkat partisipasi wanita di India dalam tenaga kerja adalah 34,2%, cukup rendah, khususnya karena 42% wanitanya mewakili lulusan bangku kuliah di India. Seperti kebudayaan di negara-negara Asia lainnya, orang-orang di India tidak suka berkata tidak secara verbal dan nonverbal. Daripada mengecewakan rekan bisnis, mereka akan mengatakan tidak tersedia atau menawarkan respon yang mereka pikir mungkin rekan bisnisnya ingin mendengarnya. Hal tersebut tidak dapat dianggap sebagai sebuah ketidakjujuran.

Di India berjabat tangan adalah hal yang biasa, namun laki-laki tidak dapat berjabat tangan dengan perempuan karena keyakinan keagamaan yang ada di India. Orang India percaya bahwa memberikan hadiah memudahkan kita untuk msuk ke dalam kehidupan yang selanjutnya. Memberikan hadiah berupa uang merupakan hal yang biasa di India, tetapi memberikan bunga seperti bunga cempaka atau bunga putih sebaiknya jangan dilakukan, karena menurut keyakinan mereka bunga-bunga tersebut mewakili masa berkabung. Dan jangan memberikan hadiah berupa kulit sapi, di India sapi dianggap sebagai hewan yang suci karena mayoritas agama disana adalah agama Hindu. Hadiah yang diberikan biasanya tidak dibuka langsung ketika diterima.

Sebelum memasuki rumah, sebaiknya lepaskan sepatu Anda, jika mau menolak minuman atau hidangan tolaklah dengan sopan. Pada saat dijamu dengan makanan, sisakan sedikit makanan di piring untuk menunjukkan bahwa Anda puas dengan makanan yang disajikan. Orang India akan lebih suka melakukan hubungan bisnis dengan orang yang telah membangun hubungan dengan mereka berdasrkan saling percaya dan menghormati. Jangan tidak menyetujui secara publik dengan orang India.

7. Budaya Bisnis Nigeria

Nigeria memiliki populasi terbesar di Afrika. Nigeria merupakan negara yang demokratis dengan Inggris sebagai bahasa resminya. Sebagian dari populasi penduduk Nigeria memiliki usia di bawah 18 tahun. Sapaan paling umum di Nigeria adalah berjabat tangan dengan senyum penyambutan yang hangat. Pemberian hadiah adalah hal yang wajar dan diharapkan di Nigeria. Orang Nigeria umumnya terbuka dan ramah dan mereka sering menggunakan humor baik dalam rapat bisnis ataupun diskusi serius.

Perbedaan Budaya Bisnis di Berbagai Negara
Perbedaan Budaya Bisnis di Berbagai Negara

Iklim Bisnis Lintas Negara/Benua

Bank Dunia dan International Corporation setiap tahunnya memberikan peringkat kepada 183 negara dalam hal kemudahan dalam melakukan bisnis. Indeks peringkat negara berkisar dari 1 (terbaik) sampai 183(terburuk). Peringkat nya dikalkulasikan sebagai rata-rata sederhana dari peringkat persentil pada seberapa mudahnya untuk :
  1. Memulai bisnis
  2. Berhubungan dengan izin pembangunan 
  3. Pendaftaran properti 
  4. Mendapatkan kredit 
  5. Melindungi investor 
  6. Pembayaran pajak 
  7. Perdagangan lintas batas 
  8. Penegakan kontrak 
  9. Mengatasi kepailitan 
  10. Perolehan listrik 

Keanggotaan Serikat Pekerja Lintas Eropa

Tingkat rata-rata dari keanggotaan serikat pekerja di seluruh anggota Uni Eropa (UE), diukur berdasar jumlah yang bekerja di negara anggota yang berbeda, adalah sebesar 23% berbanding dengan 11% di Amerika Serikat. Rata-rata orang Eropa ditekan oleh tinggkat keanggotaan yang relatif rendah dibeberapa negara UE yang lebih besar, Jerman dengan 19%, Prancis dengan 8%, Spanyol dengan 16 %, dan Polandia dengan 15%. Tiga negara kecil seprti Malta, Siprus, dan Luksemburg memiliki level diatas rata-rata.

Negra negara Eropa Tengah dan Eropa Timur memiliki tinggkat keanggotaan serikat di bawah rata-rata. Tingkat keanggotaan serikat menunjukan tren yang menurun diseluruh Eropa. Hanya 8 dari 38 negara di Eropa telah melihat perolehan anggota serikat di antara yang bekerja dalam beberapa tahun terakhir. Kepadatan serikat telah jatuh di Eropa.

1. Negara-Negara Afrika

Pada tahun 2012, negara-negara Afrika mengadakan pemilihan demokrattis, sedangkan di tahun 1989 hanya 3 negara Affrika yang mempertimbangkan demokrasi. Mata uang Afrika mulai stabil dan banyak negara menaikkan dana untuk membangun jalan raya, pelabuhan, dan jaringan listrik yang modern. Negara-negara Afrika memenangkan investor seperti yang terjadi di Zambia yang menaikkan 750 juta dolar obligasinya baru-baru ini, diikuti oleh Rwanda, Nigeria, dan Kenya yang melakukan hal yang sama. Hasil dari beberapa obligasi Afrika hanya sedikit lebih sedikit tinggi dibandingkan hasil utang dari perekonomian beberapa negara Eropa seperti Spanyol. Investor menaruh perhatian lebih ke Afrika setelah berakhirnya masa tingkat bunga yang rendah dan pertumbuhan yang lambat di berbagai tempat di dunia lain.

2. Tiongkok

Pada akhir tahun 2012, ekonomi Tiongkok mulai berkembang cepat setalah hampir dua tahun tumbuh dengan lambat. Analis mengharapkan bertambahnya pertumbuhan penduduk yang berkelanjutan, mengangkat prospek ekonomi global. Pertumubhan Tiongkok yang cepat telah menciptakan substansial, ketidakseimbangan yang meluas, dan korupsi yang tertanam dalam. Faktanya, pemerintah komunis Yiongkuk kuatir bahwa kerusakan politik di Timur Tengah dapat menyebar ke Tiongkok dalam “revolusi Melati” karena masyarakat Tiongkok nyaris tidak mampu untuk bertahan.

3. Filipina

Negara berbahasa inggris yang sangat berpendidikan. Pekerjaan call center di Filipina menghasilkan penerimaan devisa sebesar 7,4 milyar dollar pada tahun 2011, dan tumbuh 15% tiap tahunnya. Filipina belakangan menyalip Indonesia sebagai pemasok layanan call center terbesar didunia. Hal ini dikarenakan budaya bisnis Filipina “memberikan layanan yang benar-benar fantastis.” Ekonomi Filipina bergantung pada pekerja yang bekerja diluar negeri dan memberikan penghasilan pada negara, juga pada pelnacong ke dan dari Filipina. Dalam perekonomian yang berkembang, penetrasi internet di Filipina masih lebih tinggi daripada Indonesia.

4. Taiwan

Taiwan memiliki ekonomi yang dinamis, kapitalis, dan dikendalikan ekspor yang secara rutin meningkatkan keterlibatan negara dalam investasi dan perdagangan asing. Umumnya, bankkepemilikan pemerintah dan perusahaan industri di Taiwan dikembnagkan secara privat. Ekspor menyediakan kekuatan utama dalam industrialisasi. Keuntungan perdagangan adalah substansial, dan cadangana sing merupakan urutan ke-5 terbesar didunia.

5. India

India mengeluarkan sebuah hukum di kahir tahun 2011 bahwa untuk pertama kalinya memungkinkan perusahaan asing untuk memiliki 100% dari beberapa ritel bersama di India. Di akhir tahun 2012, India melembagakan five-year road untuk memperbaiki keuangan negara yang dimaksudkan mengurangi defisit anggaran. Hal yang memeprumit masalah di India adalah tingkat bunga yang tinggi dan beberapa skandal korupsi.

6. Jerman

Mobil, mesin, dan produk lain keluaran jerman memiliki permintaan tinggi di Asia. Perusahaan-perusahaan Jerman saling berkerjaran diarea pertumbuhan industrial yang penting ini, karena salah satu dari tujuh pekerjaan di Jerman adalah menghubungkan pembuat mobil negara dan pemasok domestik. Jerman memiliki populasi yang menua dan penyusutan paling cepat di Eropa. Jerman saat ini mengalami kekurangan buruh terlatih dan perekrutan agresif dari luar negeri untuk teknik terkemuka dan bakat ilmiah negara tersebut. Banyak orang beremigrasi dari Jerman dibandngkan merelokasi di Jerman. Khususnya professional berpendidikan tinggi.

7. Meksiko

Meksiko belakangan ini membangkitkan kembali industri pabrikan mobil miliknya dan sekarang menjadi eksportir mobil terbesar ke-4 didunia setelah Jerman, Jepang, dan Korea Selatan. Satu dari 10 mobil di yang terjual pada tahun 2011 di Amerika adalah buatan Meksiko. Tidak ada negara yang lebih menderita daipada Meksiko pada dekade yang lalu dengan kebangkitan Tiongkok, tetapi kebijakan pemerintah Tiongkok saat ini adalah mendorong upah untuk mendongkrak pengeluaran konsumen. Meksiko merupakan wilayah yang menarik bagi produk produk pabrikan yang amat besar dan berbiaya tinggi. jika Meksiko dapat memperbaki situasi keamanannya, maka ratusan perusahaan dapat menrik diri dari Tiongkok.