Manajemen Stres Kerja

Konten []

Manajemen Stres Kerja

Stres tidak akan pernah lepas dari diri setiap individu, untuk itu perlu ditanggulangi. dalam bisnis stres bisa mengganggu dalam suatu pekerjaan. maka dari itu ada suatu ilmu yang dinamakan manajemen stres kerja yang didalamnya berisi bagaimana cara mengatasi stres kerja.

selamat membaca

Definisi stres

Stres merupakan kondisi dinamis dimana individu berkonfrontasi dengan peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apakah yang individu inginkan dan yang mana hasil yang dipandang menjadi tidak pasti dan penting.


Lebih umum, stres dihubungkan dengan tuntutan dan sumber daya. Tuntutan merupakan tanggung jawab, tekanan, kewajiban, dan ketidakpastian yang dihadapi oleh individu di tempat kerja. Sumber daya merupakan hal-hal di dalam kendali individu yang dapai ia gunakan untuk menyelesaikan tuntutan.


cara mengatasi stres kerja
Stres akibat kerja bisa sangat berbahaya


Sumber stres yang potensial


Terdapat tiga kategori penyebab stres yang potensial:


a) Faktor-faktor lingkungan

Ketidakpastian limgkungan akan mempengaruhi desain dari struktur organisasional, hal ini juga mempengaruhi level stres di antara karyawan di dalam organisasi tersebu. Tentu saja, ketidakpastian merupakan alasan terbesar orang-orang yang memiliki masalah dalam mengatasi perubahan organisasional. Terdapat tiga ketidakpastian lingkungan yang utama, yaitu ekonomi, politik dan teknologi.


b) Faktor organisasional

Tidak adanya kekurangan merupakan faktor di dalam organisasi yang dapat membuat stres. Tekanan untuk menghindari kesalahan atau menyelesaikan tugas dalam waktu yang terbatas, beban kerja yang berlebihan, bos yang sangat menuntut dan tidak sensitif merupakan beberapa contoh. Kategori faktor-faktor tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu tuntutan tugas, tuntutan peranan, dan tuntutan interpersonal.


c) Faktor pribadi

Individu biasanya bekerja sektiar 40 hingga 50 jam dalam seminggu. Namun, pengalaman dan permasalahan yang dihadapi oleh orang-orang dalam jam kerja 120 plus dapat meluas ke dalam pekerjaan. Faktor-faktor di dalam kehidupan pribadi karyawan meliputi permasalahan keluarga, permasalahan ekonomi pribadi, dan karakteristik kepribadian yang inheren.



Sumber stres adalah aditif. Setiap sumber stres yang baru dan presisten menambah level stres dari individu. Oleh karenanya, suatu sumber stres tunggal secara relatif tidak penting, tetapi jika ditambahkan pada level yang telah ada yang tinggi, maka stres akan menjadi besar. Untuk menilai jumlah total dari stres yang dimiliki oleh seseorang, maka kita harus menjumlahkan peluang stres, hambatan stres, dan tuntutan stresnya.


Perbedaan Individu

Beberapa orang berkembang pada situasi yang penuh tekanan, sedangkan yang lainnya kewalahan oleh mereka. Ada empat faktor yang membedakan orang-orang dalam hal kemampuan mereka untuk menangani stres yaitu:

a) Presepsi


Presepsi akan memiliki hubungan yang moderat diantara kondisi stres yang potensial dengan reaksi dari karyawan terhadapnya.


b) Pengalaman

Orang-orang yang tetap bertahan dengan suatu organisasi lebih lama biasanya mereka yang memiliki sifat lebih tahan terhada stres atau mereka yang lebih tahan terhadap karakteristik stres organisasi mereka.


c) Dukungan sosial

Dukungan sosial dapat bertindak sebagai yang meringankan, mengurangi efek dari tekanan pekerjaan yang cenderung tinggi.


d) Kepribadian

Kepribadian juga menjadi salah satu faktor terjadinya stres pada individu, seperti kecanduan bekerja merupakan karakteristik pribadi yang terkait dengan level stres.


Perbedaan Budaya

Riset menyebutkan bahwa kondis kerja yang menyebabkan stres memperlihatkan beberapa perbedaan di antara budaya. Bukti menyarankan bahwa sumber stres terkait dengan stres yang dirasakan dan tekanan diantara karyawan di dalam negara-negara yang berbeda.

Konsekuensi dari Stres

Stres memperlihatkan dirinya sendiri dalam sejumlah cara, seperti tekanan darah yang tinggi, maag, sifat lekas marah, kesulitan dalam mengambil keputusan yang rutin, kehilangan nafsu makan, kerawanan terjadi kecelakaan, dan sebagainya. Gejala-gejala tersebut sesuai di bawah tiga kategori umum: fisiologis, psikologis, dan gejala perilaku.

Gejala Fisiologis

Perhatian yang sangat awal dengan stres diarahkan pada geiala-geiala fisiologis karena sebagian besar para peneliti merupakan para spesialis dalam sains kesehatan dan medis. Pekerjaan mereka mengarah pada kesimpulan bahwa stres dapat ineneiptakan perubahan di dalam metalmhsme, meningkatkan fungsi jantung dan tingkat pernapasan dan tekanan darah, membawa sakit kepala, serta menimbulkan serangan jantung.


Bukti-bukti saat ini dengan jelas menyebutkan bahwa stres akan memiliki efek fisiologis yang membahayakan. Salah satu kajian mengaitkan antara tuntutan pekerjaan yang penuh tekanan terhadap meningkatnya kerentanan terhadap penyakit pernapasan bagian atas dan fungsi sistem kekebalan tubuh yang buruk, terutama bagi para individu dengan efektivitas diri yang rendah. Kajian dalam jangka panjang yang dilaksanakan di Inggris menemukan bahwa tekanan pekerjaan dikaitkan dengan level penyakit jantung koroner yang lebih tinggi. Masih kajian lainnya yang dilaksanakan pada para pekerja layanan sumber daya manusia di Denmark menemukan bahwa level keletihan fisiologis yang lebih tinggi pada level unit kerja terkait dengan level ketidakhadiran karena sakit yang lebih tinggi secara signifikan. Banyak kajian lainnya yang memperlihatkan hasil yang sama mengaitkan dengan stres kerja terhadap variasi indikator-indikator kesehatan yang buruk.


Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:

  1. Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular
  2. Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)
  3. Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)
  4. Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
  5. Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome)
  6. Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
  7. Gangguan pada kulit
  8. Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
  9. Gangguan tidur
  10. Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

Gejala Psikologis

Ketidakpuasan pekerjaan merupakan penyebab yang sangat jelas dari stres. Namun, stres memperlihatkan dirinya sendiri dalam keadaan psikologis lainnya sebagai contoh, ketegangan, kecemasan, sifat lekas marah, kebosanan, dan penundaan. Sebagai contoh, suatu kajian yang menelusuri tanggapan psikologis dari para karyawan dari waktu ke waktu menemukan bahwa stres sehubungan dengan beban kerja yang tinggi yang terkait dengan tekanan darah yang lebih tinggi dan menurunkan kesejahteraan emosional.


Pekerjaan yang membuat tuntutan berlipat dan pertentangan atau kurangnya kejelasan mengenai kewajiban dari pemegang jabatan, otoritas, dan tanggung jawab yang meningkatkan baik stres maupun ketidakpuasan. Sama halnya, kurangnya kendali atas orang yang melebihi kecepatan dari pekerjaan mereka, maka semakin tinggi stres dan ketidakpuasan mereka. Pekerjaan yang menyediakan level variasi, signifikansi kemandirian, umpan balik, dan identitas yang rendah terlihat dapat menciptakan stres serta menurunkan kepuasan dan keterlibatan dalam pekerjaan. Tidak setiap orang bereaksi dengan kemandirian dalam cara yang sama. Bagi mereka dengan ruang kendali secara eksternal, meningkatkan pengendalian pekerjaan akan meningkatkan kecenderungan untuk mengalami stres dan kelelahan.


Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai stres pekerjaan :

  1. Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
  2. Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
  3. Sensitif dan hyperreactivity
  4. Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
  5. Komunikasi yang tidak efektif
  6. Perasaan terkucil dan terasing
  7. Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
  8. Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi
  9. Kehilangan spontanitas dan kreativitas
  10. Menurunnya rasa percaya diri

Gejala Perilaku

Riset mengenai perilaku dan stres telah dilaksanakan pada beberapa negara dan dari waktu ke waktu, serta hubungan terlihat secara relatif konsisten. Gejala stres yang terkait dengan perilaku meliputi penurunan dalam produktivitas, ketidakhadiran, dan tingkat perputaran, demikian pula dengan perubahan dalam kebiasaan makan, meningkatnya merokok atau konsumsi alkohol, pidato yang cepat, gelisah, dan gangguan tidur.


Sejumlah riset yang signifikan telah menginvestigasi hubungan antara stres dengan kinerja. Pola dari hubungan ini yang paling banyak dikaji adalah U terbalik yang diperlihatkan dalam Tampilan 18-6. Logika yang mendasari gambar ini adalah bahwa level stres yang rendah hingga moderat akan menstimulasi tubuh dan meningkatkan kemampuannya untuk bereaksi. Para individu kemudian sering kali melaksanakan tugas mereka dengan lebih baik, lebih intens, atau lebih cepat. Nanrun, terlalu banyak stres memberikan tuntutan yang tidak dapat dicapai oleh seseorang, yang dapat menghasilkan kinerja yang lebih rendah. Kendati popularitas dan daya tarik intuitif dari model U terbalik. tidak memperoleh banyak dukungan secara empiris) Oleh karenanya, kita harus berhati-hati dalam mengasumsikannya secara akurat dalam menggambarkan hubungan antara stres dengan kinerja


Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:

  1. Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
  2. Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas
  3. Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
  4. Perilaku sabotase dalam pekerjaan
  5. Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas
  6. Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi
  7. Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi
  8. Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas
  9. Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman
  10. Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

Seperti yang telah kita jelaskan lebih awal, para peneliti mulai mendiferensiasikan tantangan dan hambatan sumber stres, memperlihatkan bahwa dua bentuk dari stres ini memilih efek yang berlawanan terhadap perilaku pekerjaan, terutama kinerja. Sebuah meta-analisis mengenai tanggapan dari lebih dari 35.000 individu menunjukkan bahwa ketidakjelasan peranan, konflik peranan, beban peranan yang berlebihan, ketidakamanan pekerjaan, ketidakpastian lingkungan, dan kendala situasional semuanya secara konsisten terkait secara negatif dengan kinerja.98 Terdapat juga bukti bahwa tantangan stres meningkatkan kinerja pekerjaan dalam suatu lingkungan kerja yang mendukung, sedangkan hambatan stres akan menurunkan kinerja pekerjaan dalam semua lingkungan kerja.


Mengelola Stress

Level stress dari rendah hingga moderat dapat menjadi fungsional dan mengarah pada kinerja yang lebih tinggi, namun karyawan untuk memandang bahkan level stress yang rendah sebagai hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana kita akan membahas mengenai pendekatan individu dan pendekatan orgaisasional.

Pendekatan individu

Seorang karyawan dapat mengambil tanggung jawab pribadi untuk menurunkan level stress. Strategi yang terbukti efektif antara lain manajemen waktu, meningkatkan latihan fisik, pelatihan relaksasi, dan dukungan jaringan sosial. Orang yang terorganisasi dengan baik dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dua kali lebih banyak, oleh karenanya memahami dan memanfaatkan prinsip dasar manajemen waktu dapat membantu individu untuk mengatasi ketegangan yang disebabka oleh tuntutan pekerjaan.


Para dokter telah merekomendasikan latihan fisik yang tidak kompetitif seperti aerobik, jogging, jalan-jalan, berenang, bersepeda sebagai suatu cara untuk mengelola stress yang berlebihan. Para individu dapat juga mengajarkan mereka sendiri untuk menurunkan ketegangan melalui teknik relaksasi seperti meditasi, hipnotis, dan bernapas dalam-dalam. Tujuannya mencapai suatu keadaan relaksasi fisik yang menitikberatkan pada pelepasan ketegangan otot.


Sebagaimana yang telah dinyatakan, teman, keluarga, atau kolega, dapat menyediakan tempat ketika level stress berlebihan. Dengan memperluas jaringan sosial dapat menyediakan seseorang yang mau mendengarkan permasalahan anda dan menawarkan perspektif yang lebih obyektif terhadap situasi yang penuh tekanan.

Pendekatan organisasional

Strategi yang dikembangkan meliputi seleksi karyawan yang ditingkatkan dan penempatan pekerjaan, penetapan tujuan yang realistis, pelatihan, merancang kembali pekerjaan, meningkatkan keterlibatan karyawan, meningkatkan komunikasi organisasi, cuti panjang karyawan dan program kesehatan.


Keputusan dalam seleksi dan penempatan harus memasukkan fakta ini dalam pertimbangannya, yaitu merekrut individu yang berpengalaman dengan ruang internal tetapi para individu akan beradaptasi lebih baik terhadap pekerjaan yang lebih banyak menghasilkan stress. Sama halnya dengan pelatihan yang meningkatkan efektivitas.


Tujuan dapat menurunkan stress dan memotivasi. Karyawan yang berkomitmen terhadap tujuan akan memandang pekerjaan dan sumber stress sebagai suatu tantangan. Tujuan yang spesifik dapat dipandang sebagai ekspektasi yang dapat dicapai secara nyata.


Merancang kembali pekerjaan dengan memberikan karyawan pekerjaan dengan tanggung jawab lebih, pekerjaan lebih bermakna, lebih mandiri, dan menigkatkan umpa balik dapat mengurangi strees karena faktor-faktor tersebut membuat karyawan tidak lagi bergantung pada orang lain.


Stress mengenai peranan karyawan dapat diatasi dengan melibatkan keryawan dalam pengambilan keputusan karena telah terbukti bahwa pemberdayaan karyawan dapat mengurangi tekanan psikologis yang dialami karyawan. Dengan menggunakan komunikasi organisasiaonal secara formal dapat menurunkan ketidakpastian dengan mengursangi stress peranan. Menetapkan pentingnya persepsi tersebut yang berperan dalam memerantarai hubungan antara stress dengan tanggapan, manajemen dapat pula menggunakan komunikasi yang efektif sebagai sarana membentuk persepsi karyawan.


Untuk menghindari stress yang berkepanjangan Karyawan perlu juga diberi cuti agar tidak kelelahan dalam pekerjaannya, hal ini dapat menurunkan bahkan menghilangkan stress seorang individu. Saran terakhir adalah mengadakan program kesehatan bagi karyawan. Meta analisis menunjukkan bahwa intervensi untuk membantu karyawan mengubah kerangka situasi yang penuh tekanan dan menggunakan strategi secara aktif dapat menurunkan stress. Sebagian besar program kesehatan mengasumsikan karyawan perlu mengambil tanggung jawab pribadi mengenai kesehatan fisik dan mental meraka dan organisasi hanya sebagai sarana untuk mencapai hal tersebut.


DAFTAR PUSTAKA

Robbins, Stephen . Judge Timothy, 2015, Perilaku Organisasi, Jakarta, Salemba Empat